banner 728x250

Ngobras bareng Anggota DPR RI: Waspadai Pinjaman online Ilegal

banner 120x600
banner 468x60

Jejaktoday.com, JAKARTA – Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) bekerja sama dengan DPR RI laksanakan agenda Webinar Ngobras Literasi Digital dengan tema “Waspadai Pinjaman Online”.

Kegiatan Webinar dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, pembacaan doa dan menampilkan tari persembahan dilanjutkan dengan ucapan key not speech oleh Samuel A. Pangerapan, B. Sc., M.M selaku  Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, sekaligus membuka acara webinar. Senin (29/04/2024).

banner 325x300

Kegiatan Webinar tersebut diadakan melalui zoom meeting yang diikuti sekitar 160 peserta.

Adapun pemateri yang mengisi Webinar adalah anggota Komisi I DPR RI Dr. H. Sukamta, Hary Gunawan, S.H.,M.kn, Hasan Albana, S.E.I.,M.E

Hary Gunawan, S.H.,M.kn, mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai dengan pinjaman online ilegal yang marak saat ini.

Menurutnya tidak sedikit pinjaman online selalu menawarkan persyaratan yang cukup mudah dan cair cepat untuk menarik korban. Namun pada akhirnya pinjaman tersebut memiliki bunga yang sangat tinggi dan tidak masuk akal.

“Salah satu hal yang perlu kita waspadai adalah kehadiran rentenir online. Mereka memiliki ciri umum, yaitu memberikan pinjaman dengan bunga sangat tinggi nyaris tidak masuk akal”, ujarnya.

Ia juga menjelaskan berhutang atau meminjam sejumlah uang pada penyedia dana, banyak menjadi solusi instan yang dipilih orang ketika menghadapi sebuah kebutuhan, terutama kebutuhan yang sifatnya mendesak dan tanpa ada kesiapan finansial.

“Apalagi di era internet ini, kanal pinjaman semakin banyak tersedia. Bila dahulu, kita hanya mengenal bank, lembaga pembiayaan (multifinance), koperasi, maka di era internet ini kita mengenal peer to peer lending, fintech lender, fintech aggregator, sampai rentenir online”, jelasnya.

Ia bahkan menyebut pinjaman online yang tidak terdaftar di Otoritas jasa Keuangan (OJK) tersebut merupakan rentenir online. Rentenir ini diibaratkan sebagai lintah darat yang sifatnya menghisap dara.

“Hal ini seperti kasus yang baru saja terjadi dan menjadi pemberitaan di media massa. Guru honorer semarang harus berurusan dengan pinjaman online sebesar 3 juta rupiah yang berbunga ratusan juta rupiah”, paparnya.

Lalu masuk ke pemateri Hasan Albana, S.E.I.,M.E melanjutkan pemateri sebelumnya dalam pemaparannya dia menjelaskan bawha pinjamam online mematok biaya pinjaman atau bunga di luar batas kewajaran. Misalnya, 1 persen per hari bahkan ada yang mematok bunga 1% tiap 12 jam. Mereka berani memasang bunga tinggi karena iming-iming persyaratan mudah juga pencairan dana pinjaman nan cepat.

“Rentenir tidak segan memakai cara kasar Ketika pembayaran utang mulai terhambat, si lintah darat tak segan berbuat kasar saat menagih pembayaran utang. Rentenir online memakai jasa debt collector agar si peminjam takut sehingga mau tidak mau akan membayar hutangnya”, ujarnya.

Dr. H. Sukamta menjelaskan dalam pemaparannya bahwa pinjaman online ilegal sejatinya bertentangan dengan nilai Pancasila. Hal ini karena nilai Ketuhanan yang Maha Esa seharusnya memperlakukan manusia sebagai martabat yang tidak boleh diinjak martabatnya oleh sesama. Teror, intimidasi, dan ancaman lainnya tidak sesuai dengan asas keadilan.

“Dengan bunga yang tidak masuk akal dan di luar kewajaran ini berarti rasa keadilan publik di lukai’, Tutupnya. (Tim-Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *